sebanyak 73 unit rumah sudah dibangun rumah hunian tetap bagi warga korban tanah bergerak. - POSTBANTENNEWSPOSTBANTENNEWS google.com, pub-5724752989811170, DIRECT, f08c47fec0942fa0

sebanyak 73 unit rumah sudah dibangun rumah hunian tetap bagi warga korban tanah bergerak.

Lebak, postbantennews.com

Sekitar 74 rumah permanen dan semi permanen amrol karena tanah yang dekat laut terjadi perubahan yang sanifikan. Menurut kabar bahwa tanah dekat laut ada grapik yang tidak baik, sehingga tanah bergerak pada malam hari.Senin (16/05)
 
Penybab bergerak itu pihak metologi dan penelitian Propinsi Banten belum ada kajian yang mendasar, apakah ada gesekan laut dan karang dan laut, ada diduga ada sunami ada gempa, sehingga tanah bergetar.
 
“Rumah sebanyak 74 rumah warga itu, ada ketakutan desekan bumi, apa ada penyebab lainnya, kini Pemerintah Propinsi belum ada penelitian yang jelas”, katanya Dr. Jujung Nawarna, S.Pd, MPd salah satu dosen.
 
Dr. Jujung Nawarna, S.Pd, MPd salah satu dosen mengatakan, sebanyak 74 Rumah warga di Jampang Cikoneng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, roboh hingga rata dengan tanah karena tanah bergerak, namun beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.
 
“Kami, malam itu, menginap di rumah kerabat, sehingga selamat dari reruntuhan bangunan rumah,” kata Marhadi (45), seorang pemilik rumah warga Jampang Cikoneng, Kabupaten Lebak, Senin.

 
Masyarakat Jampang Cikoneng, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, kini sebagian tinggal bersama kerabat maupun orang tua di luar daerah juga ada yang tinggal di tenda pengungsian.

 

Namun, ada juga yang nekat menempati rumah dengan kondisi terancam roboh. Saat ini, kata dia, jumlah rumah yang terdampak bencana tanah bergerak di daerah itu sebanyak 41 kepala keluarga ( KK).

 

“Kami sejak sepekan itu sudah tidak menempati rumah usai dinding dan bagian atap terpisah akibat tanah bergerak,” katanya menjelaskan. dikutip antara.com

 

Dia kini bingung setelah rumahnya roboh karena tidak memiliki uang untuk kembali membangun tempat tinggal, Pemerintah setempat sejak tahun 2019 hingga kini belum merealisasikan pembangunan rumah hunian tetap. 
 
Padahal, kata dia, tahap pertama sebanyak 73 unit rumah sudah dibangun rumah hunian tetap bagi warga korban tanah bergerak.
 
“Pihak pemda propinsi Banten harus memberikan upaya pengkajian tentang bergerak tanah dan terbelah, hal ini ada pengkajian untuk mengatasi jangan ada warga sampai korban dalam bencana ini”, ucapnya Zamiatul S.Pd, M.Pd aktivis
 
Hasan/Nur/postn.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments