Pihak Pemkab Sidoarjo Jawa Timur bertanggung jawab atas meninggal dunia anak santri.

Sidoarjo, postbantennews.com.

Para korban orang tua minta pada pihak aparat polisi dan Pemerintah setempat agar kecewa berat, dengan adanya pondok Pasyatren Al Khoziny begitu mega runtuh seketika, rabu (08/10).

Anak sekolah di Ponpes untuk mendidik ilmu, ini malah korban oleh runtuhan bangunan tiga lantai itu.

Orang tua murid ia akan minta keadalilan pada pihak pengelola Ponpess.

“Saya tak terima anak saya hilang nyawanya dengan runtuhan bangunan 3 lintai itu”, tuturnya Rodiah salah satu saudara korban.

Menurut ia, saat bangunan ponpes itu tidak ada kelas uji coba oleh pihak Deperteman Agama (Depag) Sidoarjo sehingga lalai ddalam pengelolaan bangunan.

“Kami Kecewa, marah dan kehilangan, hal itu lah yang dirasakan, anak kami yang menuntut ilmu berakhir di kematian, kami tak terima”, ujarnya Fauzi (48) dikutip media sosial.

Empat keponakannya menjadi korban ambruknya gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).

Fauzi dan keluarganya berduka.

Ia pun mengaku tidak bisa tinggal diam. Dia menuntut agar kasus ini diusut tuntas dan pihak yang lalai dimintai pertanggungjawaban hukum.

“Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses. Penegakan hukum itu harus ditegakkan,” kata Fauzi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/10).

Empat keponakan Fauzi, MH, MS, BD dan A menjadi korban tewas dalam tragedi bangunan bertingkat pesantren tersebut. Fauzi mengatakan anak kandungnya, TM, yang juga ‘nyantri’ di ponpes itu selamat.

Mereka masih berusia sekitar 16-17 tahun dan berada di lantai dasar saat bangunan itu ambruk pada Senin (29/9).

(feri / dono).

Array
Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *